Setelah 4 tahun berada di luar negeri untuk menggali
ilmu tentang makan atau makanan akhirnya sang kakak tersayang pulang ke
Indonesia. Senang sekali rasanya kakaku dapat menyandang gelar S3 di luar
negeri dan pulang ke Indonesia dengan selamat. Tetapi di sisi yang menyenangkan
pasti ada yang sangat tidak mengenakan. Yap, aku menjadi kelinci percobaan
kakakku untuk berdiet dengan sehat agar tubuhku ideal. Mengapa harus aku yang
menjadi kelinci percobaan? Yaahh, karena diantara semua keluargaku aku yang
paling sering memakan coklat, mungkin bisa sampai 3 kali dalam satu hari,
memakan camilan hingga tertidur, dan apapun yang bisa membuat tubuhku seperti
sekarang ini. Tidak berbentuk. Dan ini jurnal dietku selama beberapa hari.
Yogyakarta, 16 april 2009
Hari pertama program dietku, ini sedikit menggangu
sarafku. Dia dengan mudahnya mengganti menu makanku setiap hari. Tanpa daging
sama sekali. Hanya dengan sayuran saja aku boleh makan. Setiap pagi aku makan
nasi dengan sayuran, siangnya makan sayuran dengan nasi, dan malamnya aku hanya
makan nasi dicampur dengan sayuran.
Bukanya aku membenci sayuran akan tetapi, aku lebih
menyukai daging. Itu saja. Bukan hanya itu saja, aku dilarang memakan makanan
yang berbau manis. Uh, selamat tinggal sahabat terbaiku, permen, coklat, kue
keju dan temanmu yang lainya. Aku juga dilarang berkunjung di tempat paling
menyenangkan di rumah ini dapur dan kulkas.
Apakah kau tahu siapa idolaku sekarang? Semua orang
yang berbadan ideal dan berparas cantik. Apakah mereka juga malangsungkan
program diet seperti yang aku lakukan? Dan apakah mereka mempunyai kakak seperti
kakaku yang satu ini?
Yogyakarta, 21 april 2009
Tidak hanya makanan yang dia rubah dari hidupku,
tetapi dia juga menerapkan sesuatu hal yang paling aku hindari selama ini.
Olahraga. Mulai saat ini, setiap pagi, entah bagaimana caranya dia selalu
berhasil membuatku hanya untuk berlari mengitari kompleks perumahanku saja. Dia
tidak menerima apapun alasan dariku, aku masih ngantuk karena menonton film
terlalu malam hingga aku lelah karena mengerjakan tugas, semua itu tidak
berhasil untuk membuat dia meloloskanku mengikuti lari pagi tersebut. Aku
sempat iri dengan tetanggaku, saat pagi buta, dan tetanggaku masih memeluk
guling kesayangan mereka dengan berbalut selimut aku bersama kakaku malah
berlari mengitari kompleks perumahanku dan melewati rumah para tetangga yang
masih sangat sepi.kenapa aku harus mempunyai kakak sekeras kepala seperti dia?
Yogyakarta, 25 april 2009
Aku mengeluh pada ibuku bahwa aku tidak bisa
mengikuti pola hidup yang terlalu sehat seperti ini. Aku berkilah bahwa aku
sudah tidak punya masukan energi yang cukup untuk mengerjakan semua tugas
–tugas sekolahku. Kakaku yang mendengar keluhanku itu Cuma tertawa. Katanya
pola makan yang seperti ini justru akan membuat seseorang lebih bertenaga dan
lebih segar dalam menjalani rutinitas sehari harinya. Jadi, tebak pendapat
siapa yang lebih didengarkan? Seorang kelinci percobaan atau seseorang yang
baru menyandang gelar di bidang makanan?
Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam.
Harus aku akui dia benar. Akan tetapi itu tetap bukan merupakan alasan untuk
mengorbankan indra perasaku.
Ibu mencoba menghiburku, “kamu sudah lebih dari
seminggu ikut pola makan yang dianjurkan oleh kakakmu. Kamu sudah kehilangan
sesuatu bukan?”
Aku mengangguk dengan lesu bahwa satu satunya yang
hilang adalah selera humorku.
Yogyakarta, 27 april 2009
Tidak mampu menulis apa-apa. Pengaruh diet sudah
mulai menjalar ke otakku. Sebaiknya aku menenangkan pikiranku terlebih dahulu.
Yogyakarta, 1 mei 2009
Sudah selama dua minggu aku menjalani diet ini dan
dua hari terakhir ini, bahkan mimpiku pun sudah mulai dipengaruhi diet sialan
ini.
Dua hari yang lalu, aku bermimpi bahwa aku mempunyai
banyak uang dan aku bisa membeli semua makanan yang aku mau. Aku mengunjungi
semua restoran fastfood yang ada
disitu. Mulai dari kentang goreng sampai burger. Hmm, bahkan menulis dua kata
itu bisa membuat aku menitikan air liur. Sebelum aku sempat menyantapnya,
tiba-tiba burger dan kentang goreng itu berdering dan sesaat kemudian aku sudah
kembali terbaring di tempat tidur sementara jam weker yang tadi malam sudah
disetel berbunyi dengan nyaring di samping tempat tidurku.
Kemarin, ketika aku mengharapkan mimpi yang sama
terulang kembali, yang terjadi adalah kebalikanya. Aku datang menghampiri meja
makan rumahku dan seperti biasa hendak menyantap sarapan dari sayuran itu
ketika tiba-tiba aku menyadari bahwa gigiku bertambah penjang dan telinga menjadi
membesar. Di atas mulutku tumbuh kumis panjang dan aku memakan sayuran itu
dengan cara menggerigitinya. Kakakku yang berada di hadapanku berkata dengan
tenangnya, “hati-hati kalau mau keluar, musim berburu kelinci sudah tiba.”
Aku bangun bahkan sebelum jam weker itu berbunyi.
Yogyakarta, 5 mei 2009
Akhirnya hari ini aku sudah tidak tahan lagi. Di
sekolah sewaktu istirahat, aku membeli sebatang cokelat berukuran besar dan
menikmatinya perlahan-lahan. Rasanya enak sekali. Coklat terbaik yang pernah
kurasakan. Aku ingin membeli satu lagi tetapi aku takut bahwa nanti aku tidak
berselera untuk makan siang yang sudah disediakan di rumah.
Ketika aku pulang, aku menemukan ibuku dan kakakku
sedang bersiap untuk makan. Ya ampun, karena begitu ingin menikmati cokelat,
maka aku lupa bahwa hari ini adalah hari sabtu dan kakakku tidak pernah bekerja
pada hari itu. Semoga dia tidak tahu akan hal ini.
Aku berganti baju dan ikut duduk di meja makan.
Ketika aku mengucapkan kata pertama dari mulutku, kakakku mengetahui bahwa aku telah memakan
cokelat. Dari mana dia tahu? Apakah dia memiliki radar siapa yang memakan
cokelat ataukah dia memiliki hidung yang lebih tajam dari sebuah anjing pelacak
kepolisian? Mukaku sudah terbukti bersalah, karena itu percuma saja aku
menyangkal.
Saat itu juga, ibuku berjanji pada tanggal 16 mei
nanti ibuku akan membelikan kami masing-masing 5 CD lagu pilihan kalian
sendiri. Aku pun mengulurkan tangan kepada kakaku tanda sepakat dan dia menerimanya.
Yogyakarta, 10 mei 2009
Beratku sudah mulai berkurang akan tetapi
penderitaan yang aku tanggung semakin parah. Aku mulai mengalami halusinasi.
Semua benda yang kulihat mulai menyerupai makanan. Kadang-kadang melihat donat
sedang memantul-mantul dari dinding ke dinding. Pizza terbang laksana UFO di
atas kepalaku.
Salah satu musuh terbesarku dalam diet ini selain
kakakku adalah timbanganberat badan. Aku selalu merasa bahwa betapapun beratku
turun, jarumnya tetap akan menunjukan angka yang sama. Hal ini semakin parah
pada beberapa hari terakhir ini. Aku mengalami halusinasi bahwa timbangan itu
bisa berbicara.
Kemarin, ketika aku naik dia atasnya, dia berkata,
“berat anda sudah ideal....untuk seekor gajah.”
Kemudian hari ini, di pagi hari, dia berucap, “maaf
timbangan ini tidak dapat digunakan oleh dua orang sekaligus.”
Siangnya, aku mendengar perkataan ini keluar dari
timbangan itu, “hei, kenapa tiba-tiba disini sudah berdiri sebuah bangunan
pencakar langit?”
Yang paling parah adalah apa yang dikatakanya di
waktu sore hari, “hari yang tenang di negeri timbangan, tetapi tiba-tiba sebuah
bayangan raksasa menutupi daratanya....”
Sejak saat itu, aku tidak pernah mau menimbang berat
badanku lagi, kecuali jika disuruh.
Yogyakarta, 13 mei 2009
Berat badanku mulai berkurang. Aku bisa merasakanya.
Akan tetapi efek sampingnya adalah bahwa siksaan itu semakin menjadi. Yang
paling berat adalah iklan-iklan makanan yang muncul di televisi. Aku takut jika
kebetulan menonton, maka aku tergoda dan berbuat curang lagi.
Salah seorang temanku memberikan usul begini
“bagaimana kalau kamu berpura-pura untuk tidak diet, lalu kamu berbuat curang
dengan ikut diet?”
Aku sudah tahu bahwa temanku itu dari dulu sudah
agak “aneh”. Cuma sampai saat ini
buktinya belum ada.
Yogyakarta, 16 Mei 2009
Aku lulus! Tadi siang aku dan kakakku diantar ibu
untuk membeli lima CD lagu pilihan kita. Ketika sedang memilih-milih album lagu
yang ada di sana, kakakku berbisik kepadaku, “tuh lihat ada hasilnya. Kita
berdua dibelikan sepuluh CD lagu sebagian besar berkat usaha kamu. Aku bangga
punya adik kayak kamu yang berpendirian teguh dan tidak mau menyerah. Lihat
hasilnya, kamu berpisah dengan beberapa kilogram tubuhmu.”
Aku hanya tersenyum simpul. Kau tidak tahu sesuatu
hal, kakakku yang baik. Dalam beberapa hari ini kau akan bertemu lagi dengan
MEREKA.

0 komentar:
Posting Komentar